Saya hampir sudah pernah diajak sowan ke semua guru-guru khusus beliau. Mulai dari Kiai Ahmad Nur Hadi Jepara, ahli pengobatan. K.H. Suyadi Magelang, ahli ma’rifat. K.H. Majid Pamularsih Semarang, ahli ma’rifat mujiz amalam al-asror. Abah Santri. Ki Bodo. sampai Kiai Ali Ridlo Yogya dan masih banyak lagi.
Satu hal yang sangat saya kagumi adalah rasa ta’dzim beliau terhadap guru-gurunya. Beliau hampir tidak pernah membawa tangan kosong ketika bertemu guru-gurunya.
Sampai-sampai ada satu rahasia yang tidak pernah beliau katakan kepada ibu nyai karena kalau tahu pasti dimarahin.
“Kang, iki duwitku dewe. Ojo ngomong-ngomong mbokmu” (Mas, ini uangku sendiri, jangan bilang-bilang ibumu)”.
Sebenarnya Abah punya simpanan rahasia khusus untuk guru-gurunya yang dijaga keberadaanya dari ibu nyai dan malah yang tahu hanyalah beberapa santri dekatnya.
Sumber : Buku Jejak Juang Kiai Sam’ani
