PP. Kyai Galang Sewu Gelar Khotmil Qur’an bil Hifdzi dan bin Nadzri Sambut Haul KGS 2026

KGS-News

Semarang – KGS Media
Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu (KGS) Semarang kembali meneguhkan perannya sebagai pusat penjagaan Al-Qur’an dan penguatan tradisi keilmuan Islam dengan menggelar Khotmil Qur’an bil Hifdzi dan bin Nadzri Tahun 2026, Jumat (23/1/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat di Masjid Al Ikhlas, Tembalang, Kota Semarang, sebagai bagian dari rangkaian menyongsong Haul KGS 2026.

Dalam kegiatan tersebut, tercatat sebanyak 40 santri putri mengikuti Khotmil Qur’an bin Nadzri dan 18 santri putri mengikuti Khotmil Qur’an bil Hifdzi. Capaian ini menjadi bukti keberhasilan pesantren dalam mencetak santri qur’ani yang tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga matang secara spiritual. Menariknya, sebagian besar peserta khataman juga mengemban amanah sebagai mahasiswa yang aktif menjalani perkuliahan.

Dalam tausiyahnya, K.H. M. Nur Salafuddin, AH. menyampaikan pesan mendalam kepada para khotimat agar perjalanan istiqomah bersama Al-Qur’an tidak berhenti pada momentum khataman semata. Menurutnya, khatam Al-Qur’an bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menegaskan bahwa memiliki anak yang mampu membaca dan menghafal Al-Qur’an merupakan nikmat dan karunia luar biasa dari Allah SWT.

“Orang tua yang mempunyai anak bisa membaca Al-Qur’an, bisa menghafal Al-Qur’an—syukur-syukur bisa memahami dan mengamalkannya—namun masih menganggap keberhasilan duniawi sebagai ukuran utama kesuksesan, maka sesungguhnya ia telah meremehkan sesuatu yang telah dimuliakan oleh Allah, yaitu Al-Qur’an,” tuturnya.

Sebagai penutup tausiyah, Kiai Nur Salafudin berharap para khotimat senantiasa bersabar dan istiqomah dalam melanjutkan perjuangan bersama Al-Qur’an, sehingga capaian khataman tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi pintu masuk menuju pengabdian yang lebih luas.

“Khatam bukanlah titik akhir. Ini baru mengantarkan pada babak pertama perjuangan mempelajari Al-Qur’an. Masih ada babak berikutnya; tasmi’, memahami makna, istiqamah dalam tadabbur, hingga mengamalkan Al-Qur’an sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat sampai mengantarkan ke surga Allah SWT,” ungkapnya.

Beliau menambahkan, perjalanan seorang santri dalam memahami Al-Qur’an sejatinya tidak pernah berakhir. Karena itu, semangat murojaah, mudzakarah, dan istiqamah harus terus dijaga tanpa rasa khawatir berlebihan terhadap urusan dunia.

“Insya Allah, jika Al-Qur’annya baik, maka hidupnya pun akan Allah jaga dengan kebaikan,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan ilmu Al-Qur’an yang dipelajari para santri tidak hanya membawa keberkahan bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menjadi syafaat bagi orang tua serta memberikan manfaat luas bagi umat.

Tuhfatul ‘Ainiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *