BIOPOND BERKAH: INTEGRASI BIOKONVERSI MAGGOT BSF DAN PEMANFAATAN MULTIPRODUK UNTUK MEMBANGUN EKONOMI SIRKULAR BERBASIS ECOTHEOLOGY DI PESANTREN

Esai

Author : Umi Sa’diyah

PENDAHULUAN

Dunia, khususnya Indonesia tengah mengalami krisis food waste dan food loss. Berdasarkan data SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional) Kementerian Lingkungan Hidup 2025, tercatat total timbunan sampah nasional tahun 2025 berkisar 34,1 juta ton yang mana 40,25% komposisinya merupakan sisa makanan. Sebagian besar sampah sisa makanan itu berakhir di TPA, sehingga mengakibatkan penumpukan gas metana, mencemari lingkungan. menjadi sarang penyakit, serta menimbulkan kerugian ekonomi yang masif.

Pesantren, sebagai komunitas yang menyediakan makanan dalam jumlah besar untuk santri, ikut berada dalam lingkaran masalah ini. Kemenag (Kementerian Agama) mencatat terdapat 42.433 pondok pesantren pada tahun ajaran 2024/2025) (el-Saha, 2025). Di Pesantren Kyai Galang Sewu, Semarang, dapur pesantren memasak makanan untuk 264 orang setiap harinya dan, berdasarkan pengamatan penulis, total sisa makanan dari semua kamar santri mencapai sekitar seperempat dari porsi yang dimasak setiap harinya. Lauk sisa diberikan ke ayam secara bercecer, nasi sisa dikeringkan lalu dijual sebagai pakan ternak yang prosesnya menimbulkan aroma tidak sedap, sedangkan sisa sayur seperti batang bayam, kangkung, kulit buah, bonggol jagung, dan sisa bahan organik lain hanya dibuang bercampur ke TPA sehingga memunculkan belatung dan potensi penyakit.

Upaya mengolah sisa makanan di pesantren dengan maggot BSF (Black Soldier Fly) sebenarnya sudah dimulai, tetapi umumnya berhenti pada pelatihan budidaya dan pemanfaatan maggot sebagai pakan ikan atau ternak, seperti di Pondok Pesantren Daarul Hidayah, Pandaan (Hasyim et al., 2024). Di sisi teknis, pemeliharaan maggot BSF masih menghadapi kendala pada proses pemanenan yang membutuhkan pemisahan larva dari media secara manual. Berdasarkan Giannetti et al., 2022, kendala ini dapat diatasi dengan sistem self-harvesting yang memanfaatkan perilaku alami prapupa    (prepupae)    BSF    untuk    bergerak meninggalkan substrat pada kondisi pencahayaan rendah dan kelembapan tertentu.

Oleh karena itu, Biopond Berkah (Biokonversi Pesantren Berkah), yaitu unit biopond maggot self-harvesting tertutup yang menawarkan lima luaran yang dapat dikembangkan berupa maggot, minyak maggot, kasgot (bekas maggot atau frass) sebagai pupuk, kitosan dari kulit pupa, serta media belajar ecotheology (teologi lingkungan) bagi santri. Kelebihan Biopond berkah yaitu desain biopond panen mandiri yang diadaptasi dari desain Ahmad et al., 2023, alur pemilahan sisa makanan di sumbernya, serta hilirisasi multiproduk yang dikelola koperasi pesantren. Berbeda dari praktik yang sudah ada, gagasan ini tidak berhenti pada budidaya maggot sebagai pakan, melainkan memadukan rancang bangun yang telah diuji dalam jurnal, produk bernilai tambah, dan landasan nilai Al-Qur’an. Tujuannya spesifiknya, yaitu menghentikan pembiaran sisa makanan pesantren, membangun kemandirian ekonomi, dan menjadikan pesantren rujukan ekonomi sirkular yang dapat direplikasi, sejalan dengan tema Santri Berdaya, Inovasi Mendunia dan subtema Ekonomi Hijau dan Inovasi Ramah Lingkungan (Ecotheology).

ISI

Gagasan Biopond Berkah

Biopond Berkah mengadaptasi desain bangun Ahmad et al., 2023 dengan alur berikut:

Rancangan dibuat dengan bak tertutup menggunakan penutup berkasa mencegah larva kabur, ramp dibuat dari plastik karena  aluminium menyerap panas sehingga prepupa enggan naik, saluran lindi dipasang di sisi bak agar lalat rumah tidak masuk lewat lubang bawah, dan wadah panen diletakkan di ujung ramp. Bak ditempatkan di area terbuka, terlindung dari hujan dan terik, dekat vegetasi agar lalat BSF liar bertelur sendiri sehingga sistem berjalan menerus. Dengan begitu, sisa makanan tidak lagi bercecer di tanah atau dibiarkan membusuk di tempat sampah, melainkan diolah di dalam bak tertutup yang aromanya dikendalikan lewat kadar air.

Gambar 1. Desain Biopond Berkah, diilustrasikan oleh Gemini AI dan diadaptasi dari Ahmad et al., 2023

Sisa makanan organik yang dimasukkan dari bagian atas biopond akan langsung diuraikan oleh larva BSF, sementara keran drainase di bagian dasar berfungsi menjaga kelembapan dengan mengontrol cairan lindi. Saat memasuki fase prepupa, larva secara alami akan merayap naik melewati bidang miring menuju wadah penampung eksternal, sehingga pemanenan berlangsung otomatis.

 

Multiproduk Hasil Biokonversi

Satu aliran sisa makanan di Biopond Berkah menghasilkan lima luaran yang masing-masing punya dasar ilmiah dan tahap pengembangan berbeda.

Produk Bahan dan proses Manfaat Dasar ilmiah
Maggot segar atau kering Larva dan prepupa dari wadah panen, dijemur atau dioven Pakan ayam dan ikan pesantren, atau dijual ke peternak sekitar Kandungan kasar 37,8–47,95% protein (Ahmad et al., 2023), protein dan asam amino larva BSF sebanding

dengan  tepung  ikan  dan

Produk Bahan dan proses Manfaat Dasar ilmiah
      bungkil kedelai (Abd El-

Hack et al., 2020)

Kasgot (frass) Ampas padat sisa biokonversi, dikeringanginkan atau dikomposkan Pupuk organik untuk kebun dan tanaman Kombinasi frass dan NPK (Nitrogen, Fosfor, Kalium) meningkatkan hasil tomat 4,5 kali, kale 2,4 kali, dan buncis 5,4 kali dibanding kontrol  (Anyega  et  al.,

2021)

Tepung    dan minyak

maggot

Larva dikeringkan,    lalu lemak dipisahkan dengan

pengepresan

Tepung     pakan berprotein,

minyak sebagai bahan         baku

pakan           atau

biodiesel     pada skala kemitraan

Larva BSF dapat menyimpan lipid hingga 30–35% bobot kering (Odoi-Yorke et al., 2025)
Kitosan Kulit              pupa (eksuvia)

dikumpulkan dari area penetasan, diekstraksi kitin lalu dideasetilasi

Bahan         baku antimikroba

bernilai     tinggi, dikerjakan

bersama laboratorium

kampus

Rendemen  kitin  10,18%

(kimia) dan 11,85% (biologis),             rendemen kitosan                     6,58%, menghambat E. coli, S. aureus,  dan  C.  albicans

(Lagat et al., 2021)

Media belajar

ecotheology

Biopond    sebagai laboratorium hidup, kunjungan, dan modul santri Pembentukan karakter,

keterampilan santripreneur,

dan              citra

pesantren ramah lingkungan

Pelatihan maggot di pesantren             mendapat respons positif dari santri dan warga (Hasyim et al., 2024)

Landasan Dalil Ecotheology Pengelolaan Sisa Makanan

Ecotheology (teologi lingkungan) dalam esai ini bertumpu pada tiga prinsip, yaitu menjauhi israf dan tabdzir (pemborosan), menjaga bumi dari kerusakan, dan memanfaatkan ciptaan Allah dengan amanah. Ayat dan hadis berikut adalah dalil umum yang dapat menjadi dasar penerapan biokonversi maggot yang merupakan penalaran penulis atas prinsip tersebut, sehingga rancangan operasionalnya tetap perlu ditelaah bersama pengasuh pesantren.

  1. Al-Isra’ ayat 26-27

وَلَ تُبَذِّ’ ˚ر تَ ˚بذِّيرًا ٢٦

Artinya   janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

إِّ ن ٱ ˚لمُبَذِّ’رِّينَ كَانُوٓ ˚ا إِّ ˚خَٰوَنَ ٱل شيََٰـطِّينِّ ۖ وَكَانَ ٱل ش ˚يطََٰـنُ لِّرَبِّ’ِّۦه كَفُورًا ٢٧

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Dalam konteks ini, membuang sisa makanan yang masih dapat dikelola menjadi potensi sumber daya merupakan bentuk kehilangan nilai guna yang perlu diminimalkan. Melalui Biopond Berkah, sisa makanan yang sesuai diolah menggunakan larva maggot BSF menjadi biomassa bernilai guna, sedangkan residunya berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk setelah pengolahan dan pengujian yang diperlukan. Dengan demikian, inovasi ini menjadi ikhtiar santri untuk mengurangi kemubaziran, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, dan membangun ekonomi sirkular yang selaras dengan nilai Islam.

  1. Ar-Rum ayat 41

ظَهَرَ ٱ ˚لفَسَادُ فِّى ٱ ˚لبَ ِّ’ر وَٱ ˚لبَ ˚حرِّ بِّمَا كَسَبَ ˚ت أَ ˚يدِّى ٱلن اسِّ لِّيُذِّيقَهُم بَ ˚عضَ ٱل ذِّى عَمِّلُو ˚ا لَعَل هُ ˚م يَ ˚رجِّعُونَ ٤١

Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Ayat tersebut menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut dapat timbul akibat perbuatan manusia. Pengelolaan sisa makanan yang tidak tepat berpotensi menimbulkan bau tidak sedap, lindi, dan gangguan kebersihan lingkungan. Ayat ini menjadi pengingat bagi santri untuk mengevaluasi kebiasaan tersebut.

  1. Al-A’raf ayat 56

وَلَ تُ ˚فسِّدُو ˚ا فِّى ٱ ˚لَْ ˚رضِّ بَ ˚عدَ إِّ ˚صلََٰـحِّهَا وَٱد˚عُوهُ خَ ˚وفًا وَطَمَعًا ۚ إِّ ن رَ ˚حمَتَ ٱ للِّّ قَرِّي ب ِّ’منَ ٱ ˚لمُ ˚حسِّنِّينَ ٥٦

Artinya: Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Ayat tersebut melarang manusia berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Larangan tersebut dapat diwujudkan melalui pengelolaan sisa makanan agar tidak terbuang sia-sia dan mencemari lingkungan. Integrasi biokonversi maggot BSF dengan sistem self-harvesting menjadi salah satu ikhtiar santri untuk mengubah limbah organik menjadi produk bernilai.

Prospek Masa Depan

Peluang replikasi di dalam negeri terbuka lebar karena pemerintah sendiri mendorong pendekatan ekonomi sirkular untuk limbah makanan, termasuk pada program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang menghasilkan sisa persiapan dan sisa konsumsi makanan dalam jumlah besar (Kementerian Lingkungan Hidup, 2025). Dengan 42.433 pesantren yang tercatat di Kemenag (el-Saha, 2025), satu pesantren yang berhasil menjadi contoh dapat menyebarkan paket SOP, modul santri, dan desain biopond ke pesantren lain di sekitarnya. Ke depan, dapur MBG, dapur umum, sekolah, dan kantin berasrama juga dapat memakai model yang sama. Dari sisi riset, nilai tambah produk BSF terus bergeser ke hulu teknologi.

Odoi-Yorke et al., 2025 melaporkan bahwa minyak larva maggot berpotensi menjadi bahan baku biodiesel dengan dampak lingkungan lebih rendah dibanding bahan baku biodiesel konvensional. Hal tersebut ditandai dengan riset pemanfaatan BSF untuk produksi biofuel yang terus berkembang dengan pertumbuhan publikasi tahunan sebesar 23,83%. Sementara kitin dan frass kini diteliti sebagai nanomaterial dan pupuk presisi dalam kerangka ekonomi sirkular (Govindaiah et al., 2026). Kemitraan dengan kampus membuat pesantren berada di jalur ini tanpa harus membangun laboratorium sendiri.

Pada tingkat global, SDGs (Sustainable Development Goals menuntut setiap negara menurunkan separuh sisa makanan per kapita pada 2030, dan UNEP menekankan perlunya solusi di tingkat kota dan komunitas (United Nations

Environment Programme, 2024). Pesantren memiliki modal yang jarang dimiliki lembaga lain, yaitu komunitas disiplin yang tinggal bersama, dapur terpusat, dan otoritas moral yang menggerakkan perilaku. Jika Biopond Berkah terbukti di lapangan, replikasinya dapat dibagikan terbuka sebagai kontribusi pesantren Indonesia bagi peradaban global, termasuk kepada institusi pendidikan Islam di negara lain.

PENUTUP

Sisa makanan yang berceceran, menimbulkan bau tidak sedap, atau berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) mencerminkan persoalan pengelolaan limbah di pesantren sekaligus tantangan krisis sampah makanan nasional. Biopond Berkah hadir sebagai solusi berbasis ekonomi sirkular melalui biopond tertutup dengan pengendalian kadar air, pemilahan limbah sejak sumbernya, dan pengembangan lima luaran potensial: biomassa maggot, minyak maggot, kasgot, kitosan, serta media edukasi ecotheology. Sistem ini dirancang untuk dikelola santri bersama koperasi pesantren, dengan mengintegrasikan teknologi biokonversi, pengujian mutu, dan nilai-nilai Islam sebagai landasan etis. Berbekal rujukan ilmiah dan uji coba lokal yang mempertimbangkan kelayakan teknis serta keamanan produk, Biopond Berkah diharapkan dapat berkembang dari inovasi di dapur pesantren menjadi model pengelolaan limbah yang dapat direplikasi. Inilah ikhtiar mewujudkan semangat Santri Berdaya, Inovasi Mendunia: mengubah sisa menjadi sumber daya, kepedulian menjadi aksi, dan limbah menjadi berkah bagi lingkungan serta kemandirian ekonomi pesantren.

DAFTAR PUSTAKA

Abd El-Hack, M. E., Shafi, M. E., Alghamdi, W. Y., Abdelnour, S. A., Shehata, A. M., Noreldin, A. E., Ashour, E. A., Swelum, A. A., Al-Sagan, A. A., Alkhateeb, M., Taha, A. E., Abdel-Moneim, A.-M. E., Tufarelli, V., & Ragni, M. (2020). Black Soldier Fly (Hermetia illucens) Meal as a Promising Feed Ingredient for Poultry: A Comprehensive Review. Agriculture, 10(8). https://doi.org/10.3390/agriculture10080339

Ahmad, I. K., Peng, N. T., Amrul, N. F., Basri, N. E. A., Jalil, N. A. A., & Azman, N. A. (2023). Potential Application of Black Soldier Fly Larva Bins in Treating Food Waste. Insects, 14(5). https://doi.org/10.3390/insects14050434

Anyega, A. O., Korir, N. K., Beesigamukama, D., Changeh, G. J., Nkoba, K., Subramanian, S., van Loon, J. J. A., Dicke, M., & Tanga, C. M. (2021). Black Soldier Fly-Composted Organic Fertilizer Enhances Growth, Yield, and Nutrient Quality of Three Key Vegetable Crops in Sub-Saharan Africa. Frontiers in Plant Science, Volume 12-2021. https://doi.org/10.3389/fpls.2021.680312

el-Saha, MI (2025). Sudah saatnya diwujudkan Direktorat Jenderal Pondok Pesantren . Kementerian Agama RI. https://kemenag.go.id/opini/sudah-saatnya-diwujudkan-direktorat-jenderal-pondok-pesantren-lnCxK

Giannetti, D., Schifani, E., Reggiani, R., Mazzoni, E., Reguzzi, M. C., Castracani, C., Spotti, F. A., Giardina, B., Mori, A., & Grasso, D. A. (2022). Do It by Yourself: Larval Locomotion in the Black Soldier Fly Hermetia illucens, with a Novel “Self-Harvesting” Method to Separate Prepupae. Insects, 13(2). https://doi.org/10.3390/insects13020127

Govindaiah, P. M., Gourkhede, D. P., Banerjee, R., Maheswarappa, N. B., Niranjan, B. H., Lalthanmawii, J., Kiran, M., & Ruban, S. W. (2026). Leveraging black soldier fly larvae for sustainable poultry waste management and high-value nanomaterial recovery: a path towards circular economy. Frontiers in Bioengineering and Biotechnology, Volume    14-2026. https://www.frontiersin.org/journals/bioengineering-and-biotechnology/articles/10.3389/fbioe.2026.1707445

Hasyim, M. A., Mukmin, M. I., & Fitriyah, F. F. (2024). Inovasi Pengolahan Sampah Organik Terpadu Melalui Budidaya Maggot di Pondok Pesantren Daarul Hidayah Pandaan. JRCE (Journal of Research on Community Engagement), 5(2), 78–82. https://doi.org/10.18860/jrce.v5i2.24186

Kementerian Lingkungan Hidup. (2025). Komposisi Data Sampah Berdasarkan Jenis Sampah . Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Diakses pada 22 Oktober 2026, dari https://sampahnasional.kemenlh.go.id/portal-indikatif/data/komposisi-sampah

Lagat, M. K., Were, S., Ndwigah, F., Kemboi, V. J., Kipkoech, C., & Tanga, C. M. (2021). Antimicrobial Activity of Chemically and Biologically Treated Chitosan Prepared from Black Soldier Fly (Hermetia illucens) Pupal Shell Waste.                                                    Microorganisms,  9(12). https://doi.org/10.3390/microorganisms9122417

Odoi-Yorke, F., Abbey, A. N. A., Asante, E., Ansah, K. K., Asare, D. B., Mensah, G., Adjei, E. A., & Atepor, L. (2025). Harnessing Black Soldier Fly Larvae for Sustainable Biofuel Production: A Review of Global Research Trends and Future Directions. International Journal of Energy Research, 2025(1), 8032373. https://doi.org/https://doi.org/10.1155/er/8032373

United Nations Environment Programme. (2024). Food Waste Index Report 2024. https://www.unep.org/resources/publication/food-waste-index-report-2024

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *