Semarang — KGS Media
Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu (KGS) menggelar acara Khotmil Qur’an bil Hifdzi dan bin Nadhri santri putra sebagai bagian dari acara puncak Haul Simbah Ki Ageng Galang Sewu dan Pangeran Diponegoro periode 1447 H/2026 M, pada Jumat pagi (23/01). Kegiatan ini menjadi salah satu momentum penting dalam rangkaian haul yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga meneguhkan tradisi keilmuan Al-Qur’an di lingkungan pesantren.
Acara khotmil Qur’an tersebut diikuti oleh 19 santri putra, dengan rincian 7 khotimin bil Hifdzi dan 12 khotimin bin Nadhri. Prosesi berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran pengasuh, kiai, asatidz, wali santri, tamu undangan, alumni, serta seluruh santri KGS.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Ummul Kitab, dilanjutkan dengan prosesi khotmil Qur’an bil Hifdzi dan bin Nadhri oleh para santri putra. Pembacaan iftitah dipimpin oleh Bapak Kiai Abdillah Mathori, S.Pd.I., sebagai pembuka rangkaian khataman Al-Qur’an. Selanjutnya, para santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga khatam sebagai simbol penyempurnaan proses pembelajaran dan pengamalan Al-Qur’an di pesantren.
Usai prosesi khataman, acara dilanjutkan dengan dzikru tahlil yang dipimpin oleh Bapak K. Izzudin, AH. Dzikru tahlil tersebut dipanjatkan sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada para masyayikh, khususnya Simbah Ki Ageng Galang Sewu dan Pangeran Diponegoro yang dikenal memiliki peran penting dalam sejarah dakwah dan perjuangan Islam. Rangkaian doa kemudian ditutup dengan doa khotmil Qur’an yang dibacakan oleh para peserta khotmil.
Memasuki rangkaian acara ketiga, disampaikan mauidhoh hasanah oleh Bapak Ustadz Muhammad Ulin Nuha Aba, M.Si. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam kepada para khotimin agar tidak berhenti pada pencapaian khatam Al-Qur’an semata, melainkan menjadikannya sebagai awal perjalanan panjang dalam menjaga, mengamalkan, dan menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an.
Beliau menegaskan bahwa wisuda khotmil Qur’an merupakan pencapaian luar biasa, namun tidak boleh dipahami sebagai tujuan akhir. Beliau juga menyampaikan bahwa kesuksesan sejati bukanlah berhenti pada satu titik capaian, melainkan keberlanjutan dalam mempertahankan dan menghidupi nilai tersebut.
“Wisuda merupakan pencapaian yang luar biasa, tetapi dalam mahfudhot disampaikan, ‘Success is a journey, not a destination’. Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah tujuan. Jika kita artikan wisuda ini sebagai tujuan, maka kita akan berhenti di sini,” ujar Ustadz Muhammad Ulin Nuha Aba, M.Si.
Beliau menambahkan, keberhasilan sebagai ahli Al-Qur’an tidak diukur dari sekadar mampu mengkhatamkan atau menyelesaikan bacaan dan hafalan, melainkan dari kemampuan untuk bertahan dan konsisten dalam menjaga Al-Qur’an sepanjang hayat.

“Dikatakan sukses sebagai ahli Qur’an bukanlah mereka yang hanya kemudian khatam, selesai. Tetapi sukses yang sejati adalah ketika dia sampai di titik tersebut, kemudian ia bertahan di dalam titik itu menjadi garis yang panjang. Success is not the dot, but line. Sukses itu bukan sebuah titik, tetapi sebuah garis yang panjang,” lanjutnya.
Sebagai penutup, beliau berharap para khotimin mampu mempertahankan konsistensi dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, sehingga pencapaian khataman tidak menjadi titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang dalam menjaga dan mengamalkan nilai-nilainya.
“Maka ketika kita sampai pada suatu titik, jangan sampai kita terjatuh pada titik yang lebih bawah. Bertahanlah di titik kesuksesan tersebut. Sembari kami mengucapkan selamat, barakallah fii khotmil Quran, kami berharap kepada adik-adik sekalian, mari pertahankan pencapaian ini. Sukses dalam mempelajari Al-Qur’an tidak berhenti sampai di sini,” tuturnya.
Setelah mauidhoh hasanah, acara dilanjutkan dengan penyerahan simbolis kepada para khotimin bil hifdzi. Penyerahan tersebut dilakukan secara langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu, Bapak K.H. Muhammad Nur Salafuddin, AH. Prosesi ini menjadi bentuk apresiasi dan pengakuan pesantren atas kesungguhan, kedisiplinan, serta perjuangan para santri dalam menghafal dan mengkhatamkan Al-Qur’an.
Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan mahalul qiyam yang diiringi oleh rebana Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu. Lantunan shalawat yang menggema menambah kekhidmatan suasana haul, sekaligus menjadi ekspresi kecintaan santri dan jamaah kepada Rasulullah SAW.
Sebagai penutup, acara diakhiri dengan mushofahah dan sungkeman para khotimin kepada para kiai dan asatidz, sebagai simbol adab dan penghormatan santri kepada guru. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penyerahan syahadah khotmil Qur’an yang kembali diberikan oleh Bapak K.H. Muhammad Nur Salafuddin, AH., diiringi rebana KGS.
Melalui kegiatan khotmil Quran ini, Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu menegaskan komitmennya dalam menjaga tradisi Al-Qur’an sebagai ruh pendidikan pesantren. Khotmil Qur’an tidak hanya dipahami sebagai capaian individual santri, tetapi juga sebagai ikhtiar bersama dalam melestarikan nilai-nilai keislaman yang diwariskan oleh para pendahulu, sejalan dengan semangat Haul Simbah Ki Ageng Galang Sewu dan Pangeran Diponegoro.
Penulis: M. Irham Maolana
