Semarang — KGS Media
Rangkaian Puncak Haul Simbah Ki Ageng Galang Sewu dan Pangeran Diponegoro periode 1447 H/2026 M ditutup dengan Pengajian Akbar bertema “Mewarisi Suluh Kiai, Mengukir Bakti Santri Berdikari”, pada Jumat malam (23/01). Kegiatan ini digelar di halaman depan Masjid Al-Ikhlas Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu dan dihadiri berbagai lapisan masyarakat.

Pengajian akbar tersebut diikuti oleh unsur masyarakat umum, instansi pemerintahan, tamu undangan, alumni, wali santri, serta seluruh santri Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu (KGS). Acara inti diisi oleh Simbah K.H. M. Syarofuddin Ismail Qoimaz, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Thalibin Leteh, Rembang, yang menyampaikan mauidzah hasanah yang sarat pesan keilmuan dan keteladanan santri.
Rangkaian acara berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Ddiawali dengan pembukaan melalui pembacaan ummul kitab, dilanjutkan dzikru tahlil yang dipimpin oleh Bapak K.H. Nurul Anam, S.Pd.I. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Bagimu Negeri, dan Mars Syubbanul Wathon. Prosesi ini diawali oleh pasukan pengibar bendera, diiringi Paduan Suara KGS, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan teks pancasila yang dipimpin oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan diikuti oleh seluruh hadirin sebagai bentuk peneguhan nilai kebangsaan dalam ruang religius pesantren.

Bapak K.H. Muhammad Nur Salafuddin, AH., pengasuh PP. Kyai Galang Sewu, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan rangkaian Haul Simbah Ki Ageng Galang Sewu dan Pangeran Diponegoro 2026. Beliau mengapresiasi dukungan para santri, alumni, wali santri, masyarakat, serta unsur pemerintahan yang turut hadir dan berpartisipasi, sehingga kegiatan haul dapat terlaksana dengan tertib dan khidmat.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh instansi pemerintahan yang diwakili oleh Bapak Camat Tembalang. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis serta membangun masyarakat yang berlandaskan nilai spiritual dan kebangsaan.
“Kami berharap kolaborasi yang positif antara ulama dan umara dapat terus terjalin. Jika ini berjalan dengan baik, insyaallah Indonesia akan menjadi negara yang aman, damai, dan sejahtera,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh hadirin untuk meneladani nilai-nilai perjuangan dan keteladanan Simbah Ki Ageng Galang Sewu yang telah diwariskan hingga hari ini.
“Apa yang telah diteladankan Ki Ageng Galang Sewu perlu terus kita lanjutkan. Harapannya, Kecamatan Tembalang khususnya dapat selalu makmur, warganya sehat, dan terhindar dari berbagai permasalahan,” pungkasnya.
Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan Mahallul Qiyam yang berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Lantunan shalawat yang diiringi rebana Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu menggema di area pengajian, mengajak seluruh hadirin berdiri sebagai bentuk penghormatan dan mahabbah kepada Nabi Muhammad SAW.
Usai Mahallul Qiyam, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Zahron Nasywa. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut menghadirkan suasana tenang dan khusyuk, sekaligus menjadi pengantar spiritual sebelum disampaikannya mauidzah hasanah kepada para santri dan seluruh jamaah yang hadir.

Acara inti Pengajian Akbar kemudian disampaikan oleh Simbah K.H. M. Syarofuddin Ismail Qoimaz, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Thalibin Leteh, Rembang. Dalam mauidzah hasanahnya, beliau menekankan bahwa ilmu tidak cukup hanya diperoleh dan dihafalkan, tetapi harus dijaga, dirawat, dan diamalkan dengan cara yang benar. Menurutnya, keberlangsungan ilmu sangat ditentukan oleh proses musyawarah, keberkahan yang lahir dari khidmah, serta manfaat ilmu yang bergantung pada ridha guru.
“Tsabatul ‘ilmi bil mudzakarah, wa barakatuhu bil khidmah, wa naf’uhu biridha asy-syaikh,” dawuhnya, menegaskan eratnya hubungan antara ilmu, pengabdian, dan adab santri kepada kiai sebagai fondasi utama dalam tradisi pesantren.
Selain menekankan pentingnya adab dan khidmah, Simbah K.H. M. Syarofuddin Ismail Qoimaz juga memberikan nasihat tegas kepada para santri agar tidak larut dalam kecintaan berlebihan terhadap dunia. Ia mengingatkan bahwa orientasi hidup yang terlalu duniawi dapat melemahkan kejernihan hati dan mengaburkan tujuan utama dalam menuntut ilmu.
“Ojo nyenengi dunyo. Dunyo iku dudu daerahé wong mukmin. Cinta dunia itu bisa membuat tuli dan buta,” pesannya, seraya mengajak para santri untuk senantiasa menata niat, memperkuat khidmah kepada kiai dan pesantren, serta menjaga kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, santri harus memosisikan diri sebagai pewaris nilai-nilai perjuangan ulama, bukan semata-mata melalui penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga melalui keteladanan akhlak, kesungguhan dalam pengabdian, dan keberpihakan kepada umat. Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, merupakan warisan penting yang telah dicontohkan oleh para ulama Nusantara, termasuk Simbah Ki Ageng Galang Sewu, dan harus terus dirawat oleh generasi santri hari ini dan masa mendatang.
Pengajian akbar kemudian ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Al-Habib Thoriq bin Abdullah Assegaf, sebelum akhirnya rangkaian acara puncak haul ditutup secara resmi oleh pembawa acara. Tidak hanya memperingati jejak sejarah dan keteladanan para ulama, melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu juga menegaskan komitmen pesantren dalam merawat tradisi keilmuan, spiritualitas, dan pengabdian santri. Nilai-nilai khidmah, kesederhanaan, serta sinergi antara ulama dan umara yang disampaikan dalam pengajian akbar diharapkan dapat terus hidup dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Penulis: M. Irham Maolana
Editor: Maryam
