Karya : Erik Prasetiya Aji
menembus malam dengan nyala mata-mata terang
dzikir dan sholawat menggema
menidurkan segala syahwat yang terbangun
meluapkan rasa kecewa akan cinta dunia.
kami berlindung dibalik peci sang kyai
berkalung hangat sutera rajutan bu nyai
perasaan rindu adalah teman sehari-hari
namun kecintaan kepada ilmu adalah
jalan bagi kami mendapat ridho ilahi.
dengan bekal seadanya, kami menapakai
jalan setapak yang sulit dilalui, untuk
mencapai derajat iman paling tinggi. darisana kami juga bisa melihat lautan kasih sayang, dan cinta dari guru kami yang seutuhnya.
bagai embun pagi yang selalu turun
meski sang pagi tak pernah meminta
tulus membasuh, hingga jika kami berburuk sangka akan mereka
noda hitam dalam diri ini akan lenyap
karena besarnya hati mereka untuk selalu memaafkan laku diri kami.
ibadah yang kami lakukan hanyalah sebatas
tumbuhan layu, tetapi berkat ilmu dari para guru
kami menjadi subur, hijau, dan berbuah
tak ingin menjadi apa-apa
kami hanya bangga menjadi seorang santri.
