Pejuang Santri Bagimu Negeri

17 Agustus 1945. Pada tanggal ini tercatat sebuah sejarah yang tidak bisa dilupakan bagi bansa Indonesia. Proklamasi begitulah kata-kata pembuaka yang diucapkan Ir.Soekarno pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur 56. Maka detik itu pula sebuah harapan-harapan baru mulai muncul, dan detik itu pula lahir sebuah Negara bernama Indonesia.

Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia diupayakan oleh banyak pihak. Mulai dari yang berjenis kelamin perempuan seperti Cut Nyak Dhien dari Aceh, kaum doctor seperti Dr. Soetomo yang merupakan lulusan dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, tak lupa dari kalangan pesantren seperti KH.Wahid Hayim yang menginisiasi berdirinya Laskar Hizbullah.

Laskar Hizbullah sendiri didirikan untuk mendidik santri dalam bidang kemiliteran. Didirikan pada tanggal 14 Oktober 1944. Pembentukan Lascar Hizbullah di latar belakangi dengan keinginan para pemuda islam terkususnya santri dalam memperjuangkan bangsa Indoesia yang merupakan sebuah kewajiban dalam mempertahankan agama Allah.

Salah satu keberhasilan dengan berhasil membunuh Jendral Mallaby yang dipimpin oleh Husaini Tiway dan dibantu dengan KH. Thohir Bakri. Menurut Kyai Said, yang berhasil membunuh Jendral Mallaby adalah seorang santri dari pondok pesantren Tebuireng bernama Harun. Keberhasilan santri dan pejuang lain dalam melawan penjajah tidak lepas dari rahmat Gusti Allah.

Seperti revolusi Jihad yang diterbitkan oleh KH Hasyim Asy’ari. Semangat dalam jihad harus tetap dilanggengkan sampai sekarang, salah satunya dengan jihad melawan ketidak tahuandengan belajar yang merupakan tugas utama seorang santri. Karena dengan ketidak tahuan mampu menjadikan peluang kembalinya bangsa ini terjajah kembali. Penjajah yang lebih awal dari Belanda atau Jepan itu sendiri adalah kebodohan. Penjajah yang merupakan sumber dari penjajahan lain.

Perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia  akan lebih baik jika mampu dimaknai bukan hanya secara seremonial belaka. Namun harus dibarengi dengan peningkatan rasa cinta terhadap bangsa, pengembangan intelektual sebagai bentuk jihad melawan penjajah berupa kebodohan dan secara keagamaan dengan diniatkan khitmah terhadap Gusti Allah lewat ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *