Chef Arnold Bahagia Melihat Ini

Gak mau kalah dengan tetangga depan. Santri putri Kyai Galang Sewu beraksi macam Master Chef Indonesia di dunia sate-persatean. Seperti pembuatan sate pada umumnya. Daging kambing dipotong dengan teknik seni yang menghasilkan potongan abstrak nan aduhai. Ditusuk-tusuk agar bersatu tidak saling meninggalkan (Uwiiuuuw). Dilumuri bumbu resep rahasia. Kemudian masuklah tahap pembakaran. Pembakaran sate sangatlah milenial dengan mengaplikasikan teknologi. Bisa dibilang sate 4.0. Teknologi yang digunakan tidak lain tidak bukan dengan menggunakan kipas angis. Sanggat teknologiable.


Menurut survey abal-abal rasa sate sangat mantul bin mashook. Seperti dibakar dengan durasi yang pas. Tidak kelamaan dan tidak kecepetan. Warna kecoklatan menggambarkan rasa manis, gurih, asin. Citarasa daging bakar pecah dimulut. Aroma sangit bakaran mengobrak-abrik hidung yang damai. 


Apalagi dengan sambelnya. Dibuat dengan Lombok setan terbaik versi anak pondok dicampur dengan kecap le** hitam pekat macam kulit malika maka terciptalah sambel pembasmi umat. Pedes polll pakek I tiga kali. Semakin nikmat saat sambelnya dituangkan kedalam nasi pulen yang sudah dingin. Meski pun dingin kayak kamu, saya yakin nasi pulen ini dibuat dari beras pilihan dengan teknik pertanian yang paling baik dirawat seperti anak sendiri. Kayak malika.


Maka mashoklah kombnasi sate, nasi dingin dan sambel. Kombinasi yang hanya dengan mengunyahnya saja saya lagsung teringat citarasa satu tahun yang lalu. Beginilah rasa sate Idul Adha, rasa yang sangat tahunan. Hanya dinikmati satu tahun sekali. Nikmat semakin bertambah ketika gerimis mulai turun.


Hawa panas dari bakaran terganti dengan rasa sejuk dari kenangan. Eee dari hujan. Maka diiringi hujan aku menjadi penyate yang handal. Aiihh, Puitis banget aku.


Ngomong-ngomong masalah sate. Saya jadi ingat asal muasal sate itu sendiri. Ada dua versi yang membahas mengenai sejarah sate. Versi pertama, sate diciptakan oleh pedagang Jawa sekitar abat 19 bersamaan dengan banyaknya pendatang Arab sehingga hal ini menjadi alasan daging yang biasa digunakan dalam menyate adalah domba atau kambing.

Versi kedua menyatakan bahwa sate berasal dari Tionghoa dengan asal kata sa tae bak yang berarti tiga potong daging. Masyarakat Tionghoa mengkonsumsi sate dengan berbagai macam daging, mulai dari yang masuk kategori halal dan kategori haram seperti babi.


Karena kami bukan produk abad 19-an. Jangan tanya ke kami asal usul mana yang benar. Tapi jika dilihat dari asal muasal sate versi kedua sangat menggambarkan islam yang membudaya. Dimana para alim ulama kita dahulu menyebarkan islam tidak dengan membabat habis kebudayaan yang sudah ada, namun mengakulturasi menjadi hal yang sesuai syariat.


Aiihhh memakan sate saja jadi teringat islam yang lembut dan penuh kasih sayang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *