“Satenya Enak, Tapi Bohong“

Yah,,,, testimoni dari salah satu santri Legend Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu Semarang (KGS), Kang Jati boy. Kegiatan nyate (membakar sate) bareng yang dilakukan oleh seluruh santri putra KGS ini dimulai dari pukul 08.30 malam dan selesai pukul 01.00 dini hari. Perolehan daging kambing dan sapi dari qurban pagi hari langsung dieksekusi para santri putra untuk mengisi kegiatan malam. Memang, nyate bareng ini dilakukan setiap setahun sekali sehabis berqurban berlangsung. Hehe,,, sejenis kegiatan rutinan yang bersifat tidak wajib.

Ada yang mengiris-iris dagingnya, ada yang di perbumbuan, ada yang di bagian pembakaran, hingga ada yang hanya icip-icip saja. Dengan diiringi musik penghantar dengan volume agak keras, seakan ikut memeriahkan malam nyate bareng ini.

Sepanjang prosesnya pun dipenuhi dengan guyonan bareng, hujatan, atau bahkan malah hanya sekedar bercerita masa lalu. Sehingga malam pun terasa hangat. Namanya saja santri yang bermahasiswa, ya wajarlah usia mereka tidak sama. Sehingga tercipta rasa solidaritas dan kekeluargaan yang tinggi. Saling mengenal dan memahami antar zaman tua dan zaman milenial.

Setelah sate dan bumbunya siap, dan es buahnya telah ready, maka beberapa santri dengan segera menggelar daun pisang di sepanjang jalan depan masjid Al-Ikhlas. Seketika, nasi panas yang telah dipersiapkan sebelumnya, segera di tata sedemikian rupa hingga memenuhi gelaran daun pisang yang sebagai media alasnya. Tak hanya itu, potongan mentimun turut menghiasi nasi putih yang masih terlihat kebulan asap panas, dengan balutan bumbu sate yang super pedas tersebut akhirnya dituangkan. Satepun segera di bagi diatasnya dari ujung hingga ke ujung daun pisang tersebut. Sehingga nampak sedap dengan kecap manis yang dicampurkan dengan bumbu satenya. Bumbu yang berisi irisan bawng merah, cabe, dan penyedap rasa menambah kelezatannya.

Tidak hanya satu, dua, atau tiga tusuk sate saja, akan tetapi puluhan hingga ratusan sate yang dibuat oleh santri putra malam itu. Sebelum itu kami ambil posisi yang cocok dan tidak berdesak-desakan, lantas kami melakukan foto dan doa sebelum makan bersama. Suara riuh mereka semakin keras tatkala Sang Cameramen mulai berhitung dari angka satu hingga tiga untuk mengambil gambar dan momen yang pas. Tak hanya itu, kami juga melakukan jargon pemompa semangat. KGS Mantap…!

Saatnya yang ditunggu-tunggu telah tiba. Yup, makan sate bareng. Sebuah kenangan yang tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja. Makan sate dengan beragam ekspresi yang terlihat dari raut wajah santri. Kenapa tidak, karena rasa bumbunya yang super pedas dan enak tidak bisa membohongi lidah mereka. Terlihat sekali mereka makan dengan lahapnya. Dari tusuk satu hingga ke tusuk yang lain begitu nikmat. Hingga akhirnya banyak yang dari kami nyerah tidak kuat menahan pedasnya bumbu yang dibuat seperti anak sendiri, hehehe.

“Satenya Mantap, bumbunya mantap, tapi bohong, hahahaha,” celoteh dari salah satu santri. Sebut saja Kang Jati. Santri Legend Pondok KGS ini akrab di panggil Jati Boy oleh santri yang lain. Walaupun begitu Kang Jati Boy terlihat sangat menikmati sekali makan sate barengnya. Nah, sebelum berakhir es buah yang berisi potongan semangka dengan perpaduan rasa syrup dan susu ini sebagai menu pemungkas malam ini. Saling bergantian minumnya sambal berdesis kepedesan, karena gelasnya cuma tiga buah.

Enak, panas, pedas, kenyang, suka, dan ramai yang dirasakan santri putra malam itu. Sukses selalu, ya! (Kiky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *