Sluku Sluku Bathok

 

Salah satu karya seni Sunan Kalijaga yang dapat membangun peradaban masyarakat Jawa. Tembang dolanan ini sekilas seperti bahasa Jawa, tetapi sesungguhnya tembang tersebut diubah oleh Sunan Kalijaga dari bahasa Arab. Tembang ini menyimpan filosofi tentang kehifupan masyarakat Jawa serta ajaran Islam.

Sluku-sluku bathok : bathok (kepala) perlu istirahat. Jika digunakan untuk bekera terus mengakibatkan otak menjadi kurang bisa berpikir. Waktunya kerja ya kerja, waktunya istirahat ya istirahat.

Bathoke ela-elo : caranya dengan berdzikir. Ela-elo bimakna Laa Ilaaha Illallaah. Karena dengan mengingat Allah hati kita akan tenang dan dengan demikian tubuh kita akan menjadi tenang.

Si rama menyang solo : ada cara lain yaitu dengan sirama (mandilah atau bersuci) menyang (menuju) Solo (sholat).

Oleh-olehe payung mutho : kita akan mendapatkan oleh-oleh payung mutho (perlindungan dari Allah SWT).

Pak jenthit lolo lo bah : irama naik dan terkesan mengagetkan melambangkan akan datangnya kematian yang tidak disangka-sangka.

Wong mati ora obah : saat kematian kita sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

Yen obah medeni bocah : banyak jiwa yang rindu untuk kembali pada Allah minta dihidupkan, tapi Allah tidak mengijinkan karena bentuknya pasti menakutkan dan mudhorotnya besar.

Yen urip goleko dhuwit : kesempatan beramal hanya ada saat hidup didunia.

 

(Sumber :  Grup Whatsapp Forum Seniman NU 1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *